LDKMUH.OR.ID, LAMANDAU — Bencana Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) serta kemarau panjang menimpa Kalimantan selama empat bulan. Hingga kini, api belum kunjung padam dan semakin meluas. Akibatnya, kepulan asap tebal mengganggu kehidupan warga di berbagai daerah.
Hikari Aufa Rofiqi merupakan Da’i Pengabdian Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Beliau bertugas di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah. Tempat pengabdian beliau turut mengalani krisis air bersih. Selain itu, warga harus menghadapi jalanan berdebu parah akibat kemarau panjang.
Tantangan Perjalanan Menuju Sekolah Muhammadiyah
Hikari Aufa Rofiqi aktif mengajar di sekolah Muhammadiyah. Lokasi sekolah berjarak sekitar 25 kilometer dari tempat tinggal beliau. Setiap hari, beliau menempuh perjalanan berat melewati jalanan tanah. Beliau juga harus menerobos kepungan asap karhutla dan debu tebal.
Selain itu, kelangkaan bahan bakar minyak menambah beban perjuangan harian. Beliau harus mengantre panjang di tempat pengisian BBM. Meskipun situasi sangat sulit, beliau tetap konsisten menjalankan amanah dakwah.
Dampak Karhutla Terhadap Kegiatan Belajar dan Dakwah
Kabut asap karhutla yang semakin pekat turut mengganggu kelancaran proses belajar mengajar di sekolah serta aktivitas dakwah secara keseluruhan. Beberapa murid kerap terpaksa izin tidak masuk sekolah karena terserang sakit. Bahkan, sang da’i sendiri sempat mengalami gangguan kesehatan akibat kekurangan oksigen bersih.
Meskipun demikian, kegiatan dakwah dan pendidikan tetap berjalan meskipun dengan penyesuaian intensitas. Kajian rutin pekanan yang sebelumnya dilakukan secara tertib kini menyesuaikan kondisi cuaca. Jika situasi sedikit membaik dan kabut asap mulai berkurang, pengumuman kegiatan TPQ maupun sekolah disebarkan sehari sebelumnya kepada masyarakat.
Refleksi Pengalaman dan Pentingnya Mitigasi Lingkungan
Bencana Karhutla di Kalimantan merusak banyak flora dan fauna. Peristiwa ini memberi pelajaran penting tentang pentingnya menjaga kelestarian alam. Eksploitasi alam secara berlebihan hanya akan mendatangkan kerugian bagi masyarakat. Oleh sebab itu, semua pihak harus menjalankan penanganan karhutla secara matang dan terstruktur.
Selama empat bulan membersamai masyarakat 3T, beliau memetik banyak pengalaman berkesan. Beliau menyaksikan warga menimba air bersih di sungai. Beliau juga melihat ketangguhan warga bertahan hidup di tengah asap pekat. Kisah nyata ini harapannya mampu membuka mata empati masyarakat luas.
Edited by: Zandik
