LDKMUH.OR.ID Manggarai Timur, NTT– Di tengah hiruk-pikuk kota yang serba modern, sebuah potret perjuangan yang menggetarkan hati terekam di Desa Nanga Rema, Kecamatan Lamba Leda, Kabupaten Manggarai Timur, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada hari Sabtu, 8 Agustus 2026, semangat juang generasi muda dan kepedulian seorang dai 3T (Tertinggal, Terdepan, Terluar) bersatu melawan keterbatasan akses pendidikan.
Rutinitas Menembus Sungai Menuju Sekolah
Setiap hari, puluhan siswa Sekolah Dasar (SD) di Desa Nanga Rema, mulai dari kelas satu hingga kelas enam. Harus menghadapi tantangan besar bahkan sebelum pelajaran dimulai. Sejak sekolah ini berdiri sekitar satu tahun lalu, menyeberangi sungai yang membentang luas sepanjang kurang lebih satu kilometer menjadi rutinitas harian mereka. Meski tingkat kesulitannya sangat bergantung pada kondisi debit air. Jalur basah ini tetap menjadi satu-satunya akses utama yang paling cepat untuk dijangkau.
Bukan hanya para siswa, seluruh warga desa pun terpaksa menggunakan jalur sungai ini jika ingin bepergian ke kota untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebenarnya terdapat jalur darat alternatif, namun jaraknya terlampau jauh—harus memutar sekitar 5 hingga 6 kilometer leDa’i 3T Sang Garda Terdepan Penjemput Cita-Cita Siswa SD Manggarai Timurbih jauh dibandingkan menembus sungai. Alhasil, menyeberangi sungai berarus ini meNanga Remanjadi pilihan tunggal yang tak terhindarkan bagi warga dan anak-anak, meski risiko berbahaya selalu mengintai.
Tangan Hangat Penuntun Langkah Kecil
Kesulitan utama dalam perjalanan ini adalah licinnya bebatuan sungai yang harus dipijak. Jika tidak waspada, para siswa sangat mudah terpeleset dan jatuh ke dalam air, bahkan berisiko terbawa arus. Kondisi ini terasa jauh lebih mengkhawatirkan saat musim hujan tiba. Dimana debit air naik drastis dan arus menjadi sangat deras hingga sungai sama sekali tidak aman untuk dilewati. Akibatnya, kegiatan belajar mengajar kerap terpaksa diliburkan dan akses warga menuju kota pun terputus total.
Ancaman ini menjadi ujian nyata, terutama bagi siswa kelas satu yang masih kecil dan bertubuh pendek. Di tengah situasi yang membahayakan keselamatan anak-anak tersebut, hadir peran krusial seorang Dai 3T. Dengan penuh kesabaran dan keteguhan hati, sang dai setia pasang badan mendampingi, menuntun, serta memastikan setiap langkah-langkah kecil mereka tetap aman hingga sampai di seberang.
Nyala Semangat di Ujung Keterbatasan
Keterbatasan tidak hanya terasa selama perjalanan menyeberangi sungai, tetapi juga di dalam ruang kelas. Di sekolah, anak-anak Nanga Rema harus belajar dengan fasilitas seadanya. Bahkan, bangku-bangku yang mereka duduki merupakan hasil usaha dan kreativitas swadaya dari para orang tua murid. Berdasarkan perbincangan dengan para guru. Sekolah sangat mengharapkan uluran tangan berupa bantuan bangku tulis yang layak serta buku-buku pengetahuan umum, mengingat ketersediaan media belajar saat ini masih sangat terbatas.
Panggilan Hati untuk Nanga Rema
“Hati saya sangat tergerak melihat semangat juang mereka yang luar biasa. Meski harus melewati sungai berbahaya dan belajar dengan fasilitas yang serba terbatas. Keinginan untuk menuntut ilmu tidak pernah padam sedikit pun. Masya Allah, keteguhan mereka patut kita jadikan teladan” .
Melalui potret perjuangan di Nanga Rema ini, ia berharap kisah mereka dapat mengetuk pintu hati masyarakat luas untuk mengulurkan bantuan.
“Semoga ini dapat membangkitkan rasa peduli dan kepedulian bersama dari kita semua. Agar bisa saling meringankan beban dan membantu memperbaiki keadaan mereka. Semoga kelak mereka bisa memiliki akses jalan yang aman serta fasilitas sekolah yang layak untuk menuntut ilmu dengan tenang,” — Chursiah Nurul Syofiyah.
(Editor:Novia)
