Dai LDK Ari Hardianto Berantas Buta Baca Al-Qur’an di Kepulauan Salawati Tengah Dan Hadirkan Metode Tamyiz untuk Terjemah Al-Qur’an

LDKMUH.OR.ID SALAWATI TENGAH — Keterbatasan akses di wilayah kepulauan tidak menyurutkan semangat dakwah di pelosok negeri. Saat ini, Ari Hardianto, Dai utusan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK), terus menggerakkan upaya untuk memberantas buta baca Al-Qur’an menggunakan metode Tamyiz di Distrik Salawati Tengah, Kabupaten Raja Ampat, Papua Barat Daya. Beliau menjalankan program pembinaan ini secara konsisten melalui TPA Al-Furqan, Majelis Taklim Al-Hidayah, serta Majelis Taklim Al-Mukarramah.

Melalui pendampingan yang intensif, Ari Hardianto membimbing para santri di TPA Al-Furqan agar dapat mengenal huruf hijaiyah. Selain itu, beliau juga mengajari santri membaca Al-Qur’an secara bertahap dalam halaqa kelompok kecil agar setiap pengajar dapat memberikan perhatian secara maksimal.

Menghadirkan Metode Tamyiz untuk Terjemah Al-Qur’an

Tidak hanya itu, Ari Hardianto membawa perubahan penting dalam pola pembelajaran di TPA Al-Furqan. Beliau memperkenalan metode Tamyiz, yaitu metode pembelajaran Bahasa Arab praktis untuk menerjemahkan Al-Qur’an kata demi kata. Dengan demikian, para santri tidak sekadar melafalkan ayat, melainkan juga mulai memahami makna mendalam di balik setiap bacaan.

Selanjutnya, program untuk memberantas buta baca Al-Qur’an ini juga menyasar kalangan dewasa. Melalui Majelis Taklim Al-Hidayah dan Majelis Taklim Al-Mukarramah, para jamaah memperbaiki kualitas bacaan Al-Qur’an mereka. Bahkan, pengajar juga memberikan wawasan keagamaan seputar akidah, ibadah, serta akhlak untuk kehidupan sehari-hari.

Melahirkan Generasi Melek Al-Qur’an di Kepulauan

Oleh karena itu, majelis taklim tersebut menjadi ruang belajar bersama yang efektif dalam menguatkan kebersamaan masyarakat pedalaman. Ari Hardianto berharap pembinaan berkelanjutan ini melahirkan generasi yang tidak hanya fasih membaca, tetapi juga memahami isi Al-Qur’an secara utuh.

“Kami ingin anak-anak dan masyarakat Salawati Tengah bukan hanya bisa membaca Al-Qur’an, tetapi juga mengerti isinya, sehingga Al-Qur’an benar-benar menjadi pedoman hidup,” ujar Ari Hardianto.

Pada akhirnya, dukungan dari tokoh agama, masyarakat, dan berbagai pihak menjadi kunci utama agar program bebas buta baca Al-Qur’an ini dapat terus berkembang. Dengan semangat keberlanjutan tersebut, program ini diharapkan dapat menjangkau lebih banyak warga di wilayah Kepulauan Salawati Tengah.

Kontributor: Ari Hardianto

(Editor:Zandik)

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

Latest Posts