LDKMUH.OR.ID, Nias Selatan – Di ujung barat Indonesia, di antara gulungan ombak Samudra Hindia, langkah-langkah dakwah terus berpijak pelan namun pasti. Dari pulau kecil yang terpencil itu, cahaya Islam tetap menyala melalui kerja sunyi para dai, salah satunya Abdillah Toha, utusan Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Pulau Tello merupakan bagian dari gugusan kepulauan di Kecamatan Pulau-Pulau Batu, Kabupaten Nias Selatan, Sumatera Utara. Di wilayah ini, desa-desa dibedakan berdasarkan keyakinan warganya. Dari tujuh desa yang ada, hanya dua yang berpenduduk mayoritas Muslim. Desa tempat Abdillah bertugas merupakan yang terbesar, dengan sekitar 1.380 jiwa umat Islam.
Dari hasil perbincangannya dengan warga, setidaknya terdapat enam pulau lain di sekitar Tello yang juga memiliki komunitas Muslim. Namun hingga kini, akses menuju ke sana masih terbatas.
“Cuaca sering berubah cepat, badai bisa datang tiba-tiba, sementara kapal besar tak tersedia. Satu-satunya transportasi adalah perahu kecil, dan perjalanan bisa memakan waktu dua jam lebih,” ujar Abdillah.
Menghidupkan Kembali Cabang Muhammadiyah yang Lama Mati Suri
Saat pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Tello, Abdillah bersama timnya segera berinisiatif menghidupkan kembali cabang Muhammadiyah yang telah lama vakum. Melalui musyawarah yang bersama 20 orang warga. Struktur Pimpinan Cabang Muhammadiyah pun berhasil dibentuk.
Setelah itu, mereka langsung merancang sejumlah program kerja. Salah satunya ialah pengajian rutin terlaksana dua kali setiap bulan—pada pekan pertama dan ketiga—dengan sistem berpindah rumah ke rumah.
“Tujuannya sederhana, menciptakan atmosfer silaturahim yang masif serta pendekatan yang lebih hangat kepada jamaah,” tutur Abdillah.
Meski jumlah jamaah belum banyak, antusiasme masyarakat sangat tinggi. Pasalnya, pengajian seperti ini sudah lama tidak ada secara berkelanjutan. Biasanya, kegiatan keagamaan baru ramai ketika ada ustaz dari luar pulau.
Adapun tema pengajian fokus pada kemuhammadiyahan dan pembahasan hadits Arba’in, berdasarkan usulan jamaah agar pembahasan lebih variatif dan aplikatif. Pemateri pun bergantian, tidak hanya dari dai LDK, tetapi juga ustaz-ustaz lokal yang ada di Pulau Tello.
Dari Rumah Pribadi Menjadi Taman Pendidikan Al-Qur’an
Tidak berhenti di situ, Abdillah juga menggagas pendirian Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) setiap hari ba’da Maghrib hingga Isya.
Program ini bermula dari keprihatinannya melihat banyak anak-anak yang bermain setelah salat Maghrib tanpa kegiatan bermanfaat. Kini, TPQ tersebut telah memiliki 25 murid dari berbagai kelompok umur — mulai dari anak usia taman kanak-kanak hingga siswa sekolah menengah pertama.
Meski masih terlaksana di rumah pribadi, dampaknya nyata terasa oleh masyarakat.
“Anak-anak kami sekarang lebih terarah. Biasanya mereka bermain setelah Maghrib. Sekarang waktunya diisi dengan mengaji dan belajar iqra. Kami sangat bersyukur,” ungkap salah seorang wali murid.
Masyarakat berharap agar program TPQ ini mendapatkan dukungan, khususnya dalam hal sarana dan prasarana, agar dapat menjangkau lebih banyak anak di Pulau Tello.
Selain TPQ, Abdillah juga membantu program tahsin dan tahfidz di Madrasah Aliyah Bahrul Ulum Pulau Tello.
Program ini menggunakan metode talaqqi, di mana bacaan setiap siswa dikoreksi secara langsung satu per satu, sehingga proses evaluasi lebih mendalam dan personal.
Dalam beberapa waktu ke depan, madrasah tersebut juga berencana mengadakan tasmi’ 1 juz. Program perdana yang baru pertama kali ada di Pulau Tello.
Ustaz Ahmad, Kepala Madrasah Bahrul Ulum, menyampaikan apresiasinya. “Program tahfidz dan tasmi’ ini membawa semangat baru bagi anak-anak muda di sini. Kami melihat ada harapan besar bagi kebangkitan dakwah di Pulau Tello.”, imbuhnya.
Dakwah yang Membumi, Mengakar di Hati Warga
Pendekatan humanis Abdillah Toha menjadikan dakwah di Pulau Tello terasa membumi.
“Ustaz Abdillah ini tidak hanya berceramah, tapi hadir di tengah warga. Ia ikut bergotong royong, mengunjungi rumah-rumah, bahkan turut dalam kegiatan adat,” tutur Ahmad Rizal, tokoh pemuda desa.
Bagi Abdillah Bersama rekan-rekan LDK Muhammadiyah, dakwah di Pulau Tello bukan sekadar tugas, melainkan bentuk pengabdian yang mengajarkan kesabaran, ketulusan, dan cinta.
Kehadiran dai LDK Muhammadiyah di kawasan terpencil seperti Pulau Tello menjadi bukti bahwa dakwah berkemajuan tidak harus gemerlap. Ia bisa hadir dalam bentuk yang sederhana — lewat senyum, sapaan, dan tangan yang membantu.
Dari tepi selatan Nias, Abdillah Toha dan masyarakat Pulau Tello tengah menulis bab kecil dalam sejarah dakwah Islam Indonesia — bab yang lembut, bersahaja, dan penuh kasih.
