LDKMUH.OR.ID, Ngawi – Sejak usai Subuh, ratusan warga Muhammadiyah dari berbagai penjuru daerah mulai berdatangan untuk menghadiri Kajian Ahad Pagi pada Ahad, 2 November 2025, oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Ngawi.
Kegiatan itu berlangsung khidmat dan penuh semangat. Kali ini, kajian terasa istimewa karena menghadirkan Ustadz Muchamad Arifin, M.Ag., Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, sebagai pembicara utama dengan tema inspiratif: “Belajar dari Pedalaman, Menjalankan Hidup Penuh Makna.”
Dalam tausiyahnya, Ustadz Arifin mengajak jamaah meneladani nilai-nilai ketulusan, kesederhanaan. Semangat dakwah para dai yang berjuang di wilayah-wilayah terpencil Indonesia.
“Hidup yang bermakna bukan terlihat dari banyaknya harta, tetapi dari seberapa besar manfaat yang kita berikan kepada sesama,” tegasnya.
Semangat Dakwah Daerah Pedalaman
Ia menceritakan banyak pelajaran berharga dari masyarakat di pedalaman — bagaimana dalam segala keterbatasan, mereka tetap teguh beribadah dan menjaga keimanan. “Itulah hidup yang penuh makna: sederhana, tapi luar biasa bernilai,” ujarnya.
Menambah kedalaman pesan, Ustadz Arifin juga menayangkan video dokumentasi perjalanan para dai LDK Muhammadiyah di berbagai daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar). Tayangan tersebut menggambarkan perjuangan para dai yang harus menempuh medan berat demi menegakkan dakwah di tengah keterbatasan sarana.
Suasana kajian seketika hening dan haru. Banyak jamaah menitikkan air mata menyaksikan perjuangan para dai yang menempuh perjalanan berjam-jam hanya untuk dapat menunaikan shalat Jumat berjamaah.
“Masyaallah, dalam kondisi sulit mereka tetap berjuang dengan senyum dan keteguhan hati. Sementara kita di kota, sering kali lalai padahal semua serba mudah,” ungkap Ustadz Arifin dengan penuh makna.
Dalam kesempatan itu, ia juga menegaskan bahwa dakwah LDK Muhammadiyah tidak hanya berlangsung di pedalaman, tetapi juga di komunitas perkotaan seperti masyarakat marginal, pekerja informal, dan anak jalanan. “Setiap medan dakwah punya tantangan tersendiri, namun semangatnya satu: menghadirkan dakwah yang mencerahkan dan menggembirakan,” tambahnya.
Kajian yang diprakarsai oleh Majelis Tabligh PDM Ngawi ini ditutup sekitar pukul 08.00 WIB dengan doa bersama.
Kegiatan ini menjadi pengingat bahwa dakwah bukan sekadar mimbar dan kata-kata, tetapi aksi nyata yang menebar manfaat. Sejalan dengan spirit Milad Muhammadiyah ke-113: “Memajukan Kesejahteraan Bangsa.”
