LDKMUH.OR.ID, Banten— keislaman bukan hasil gempita dakwah pengeras suara atau mimbar besar. Ia tumbuh dalam senyap, hadir lewat pertemuan sederhana, obrolan hangat, juga teladan moral dari mereka yang lebih dulu memeluk Islam. Bagi para mualaf Baduy, perjalanan menuju syahadat bukan sekadar keputusan rasional, melainkan pergulatan batin yang panjang—antara tuntunan hati, kecintaan pada adat, dan panggilan iman yang tak bisa ditolak.
Mereka menyebut hidayah sebagai anugerah, bukan pencapaian. Ada saudara yang dekat, yang baik hati, yang terbuka, namun belum tersentuh iman. Ada pula yang mengakui kebaikan Islam, mengucapkan syahadat saat akad nikah, namun belum menunaikan shalat karena kuatnya tradisi adat.
“Masuk Islam itu betul-betul hidayah. Saudara saya itu, baik sekali orangnya, setiap Lebaran tetap datang ke rumah saya. Tapi belum tergerak untuk syahadat. Kalau belum ada hidayah, ya belum.” Ujar Asturi.
Bagi warga Muslim Baduy, semuanya kembali pada ketentuan Ilahi. Tidak ada paksaan, tidak ada gesekan. Yang ada adalah kesadaran bahwa iman datang pada waktunya masing-masing.
Konversi ke Islam bagi sebagian warga Baduy bukan hanya spiritualitas baru, tetapi juga pintu menuju cara hidup yang lebih terbuka—kesempatan menuntut ilmu, membangun usaha, dan menata kehidupan keluarga dengan lebih mandiri. Namun, mereka tetap menghormati akar budaya tempat mereka tumbuh. Di sini, Islam hadir bukan sebagai pemutus rantai tradisi, melainkan cahaya yang memperkuat akhlak, memperhalus cara pandang, dan memupuk kasih terhadap sesama.
Di tanah ini, iman tidak menuntut gegap gempita; ia tumbuh dengan rendah hati, sebagaimana hidayah yang datang secara halus dan lembut—menyentuh jiwa tanpa memutus akar.
Adat, Kesederhanaan, dan Islam: Dua Pilar yang Tidak Saling Meniadakan
Identitas Baduy bertumpu pada kesederhanaan, amanah, dan keteguhan adat. Aturan hidup diterapkan turun-temurun, dari sistem kepemimpinan Pu’un, etika berpakaian, hingga batasan teknologi. Namun di tengah keteguhan itu, ruang menerima perbedaan tetap terjaga.
“Di sini tidak ada konflik karena agama. Kita saling hormat. Yang Muslim ya dengan ibadahnya, yang adat menjalankan adatnya. Yang penting tidak saling mengganggu,” Ujar ustadz kasja selaku koordinator baduy.
Beberapa warga Baduy memeluk Islam karena panggilan keyakinan, sebagian karena ingin berkembang. Ada yang melanjutkan kuliah, menjadi guru, bahkan pejabat publik. Ketika keterbatasan adat tidak lagi sejalan dengan aspirasi, mereka memilih hijrah dengan tetap membawa nilai kesahajaan.
“Kalau sudah tidak mampu menjalankan adat, ya keluar dengan baik. Jangan merusak adat dari dalam. Itu lebih terhormat,” ungkap Asid.
Di sisi lain, mualaf tetap menjaga hubungan keluarga. Mereka hadir di hajatan adat, saling bantu di ladang, dan tetap “balik kampung” ketika tradisi memanggil. Bahkan soal pernikahan dan tatanan hubungan sosial, prinsipnya tetap “kami saudara”.
Kesucian tradisi dan syariat iman berjalan berdampingan. Kesederhanaan tidak ditinggalkan, melainkan diperkuat melalui akhlak Islami: jujur, rendah hati, dan tidak mencari pujian.
Baduy mengajarkan bahwa iman tidak harus menghapus akar budaya. Ia justru memurnikan fitrah manusia untuk kembali kepada kebaikan.
Merawat Harmoni, Menjaga Ukhuwah: Islam Sebagai Jalan, Bukan Tekanan
Konversi agama kerap menjadi sumber gesekan di banyak wilayah. Namun tidak di Baduy. Di sini, mualaf tidak dipandang sebagai ancaman dan adat tidak memusuhi keislaman. Kedua jalan bertemu dalam prinsip penghormatan kemanusiaan.
“Kita bersaudara. Jika ada yang masuk Islam, silakan. Tidak ada larangan. Yang penting tidak memaksa dan tidak merusak kedamaian,” ujar Asturi.
Hubungan sosial justru tetap erat. Mereka saling bantu di ladang, berbagi hasil bumi, dan hadir bersama dalam hajatan. Bahkan dalam kewajiban adat seperti sedekah panen, kehadiran mualaf tetap dirindukan.
“Kalau ada hajatan, kita tetap bantu. Itu adat kekeluargaan. Walau berbeda keyakinan, rasa hormat tetap ada,” Tambahnya.
Namun, tantangan tetap ada. Sebagian mualaf muda masih mencari pijakan ekonomi, sebagian menata relasi keluarga, dan ada yang belajar berdiri di dua kaki: syariat dan budaya. Tapi semuanya dijalani tanpa permusuhan.
Di tengah keterbukaan zaman, masyarakat adat pun mengalami transformasi. Anak-anak muda mulai berpendidikan tinggi, beberapa memegang teknologi, meski tetap memegang adat inti.
Di sini kita belajar: dakwah tidak harus lantang. Kadang ia hanya perlu hadir, hidup bersama, memberi contoh, dan menunggu Allah membuka hati.
Baduy menunjukkan bahwa harmoni bukan slogan. Ia hidup di ladang, di jalan tanah, di rumah panggung, di tangan yang saling membantu—dan di ruang hati yang tidak sempit menghadapi perbedaan.
