LDKMUH.OR.ID, Pinrang– Dakwah tidak selalu dimulai dari mimbar besar atau pusat-pusat perkotaan. Di sejumlah wilayah pedalaman Kabupaten Pinrang, Sulawesi Selatan, kebutuhan akan pendampingan keagamaan justru menjadi persoalan mendasar yang masih dirasakan masyarakat mualaf.
Kondisi tersebut mendorong Mualaf Learning Center (MLC) Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah Sulawesi Selatan melakukan asesmen lapangan ke sejumlah kampung mualaf di wilayah terpencil. Selama dua hari, 29–30 Mei 2026, MLC Muhammadiyah Sulsel menyambangi lima kampung mualaf untuk memetakan kebutuhan pembinaan keagamaan, pendidikan, dan pendampingan sosial masyarakat.
Lima lokasi yang menjadi sasaran kunjungan tersebut meliputi Kampung Mualaf Darussalam, Kampung Makula, Kampung Salu Kata, Kampung Batu Sura, dan Kampung Opang. Selain melakukan observasi, tim juga menggelar pengajian bersama warga sebagai sarana mempererat hubungan sekaligus memperkuat akidah masyarakat setempat.
Direktur MLC Muhammadiyah Sulawesi Selatan, Tauhid, menjelaskan bahwa kunjungan tersebut merupakan langkah awal untuk menyusun program pembinaan yang lebih terarah dan berkelanjutan.
“Agenda ini merupakan asesmen awal lokasi. Dari hasil kunjungan ini, ada beberapa program yang akan kami tindak lanjuti,” kata Tauhid.
Menurutnya, hasil pemetaan kebutuhan masyarakat akan menjadi dasar penyusunan berbagai program dakwah dan pendidikan yang sesuai dengan kondisi lapangan.
Penempatan Dai dan Pendidikan Anak Jadi Fokus Utama
Salah satu kebutuhan yang paling menonjol dari hasil dialog dengan masyarakat adalah kehadiran dai yang dapat melakukan pendampingan secara rutin. Selama ini, keterbatasan akses menyebabkan pembinaan keagamaan di sejumlah kampung berlangsung tidak maksimal.
Karena itu, Muhammadiyah berencana memperkuat program penempatan dai di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta daerah marginal yang menjadi lokasi pembinaan mualaf.
“Program yang akan kami dorong adalah penempatan dai 3T dan marginal di lima lokasi ini serta penguatan pendidikan anak-anak mualaf,” ujarnya.
Selain pembinaan keagamaan bagi warga dewasa, pendidikan anak-anak mualaf juga menjadi perhatian utama. Kehadiran pendamping yang menetap juga penting untuk membantu proses pembelajaran agama secara berkelanjutan sekaligus membangun generasi muda yang memiliki pemahaman keislaman yang kuat.
Syahrir, imam masjid di Kampung Salu Kata, berharap Muhammadiyah dapat menghadirkan dai yang tinggal dan membina masyarakat secara langsung.
“Kami berharap ada penempatan dai. Warga dan anak-anak akan lebih semangat dengan kedatangan ustaz-ustaz yang membina kami,” kata Syahrir.
Perjalanan menuju kampung-kampung tersebut tidaklah mudah. Akses sebagian lokasi hanya bisa menggunakan kendaraan roda dua dengan kondisi jalan yang terjal dan menantang, terutama saat musim hujan.
Meski demikian, tantangan geografis tidak mengurangi semangat Muhammadiyah untuk menjangkau masyarakat di wilayah pedalaman. Melalui asesmen ini, MLC Muhammadiyah Sulsel berharap dapat menghadirkan program pembinaan yang tepat sasaran, berkelanjutan, dan mampu memperkuat kehidupan keagamaan masyarakat mualaf di Kabupaten Pinrang. (Najih)
