LDK PP Muhammadiyah

Makna Ibadah

0 1,051

Hikmah Ibadah

Kenapa manusia harus beribadah? Apa manfaat ibadah bagi manusia? Hal ini sangat penting agar kita tahu maksud, tujuan dan manfaat dari ibadah itu sendiri. Dengan demikian nantinya kita menjadi lebih berkomitmen dan bersemangat dalam beribadah. Perumpamaan seperti, orang yang makan buah-buahan sekedar untuk makan, dan orang yang makan buah-buahan karena dia tahu akan manfaatnya. Begitu juga dengan seorang mahasiswa yang kuliahnya sekedar iseng, ikut-ikutan, berbeda dengan mahasiswa yang tahu tujuan dan manfaat kenapa dia harus kuliah, tentunya berbeda.

Demikian juga dengan ibadah. Orang yang tahu alasan kenapa dia harus beribadah, dia tahu tujuan dan manfaatnya, berbeda dengan orang yang ibadahnya hanya ikut-ikutan saja. Inilah pentingnya kita memahami dengan baik kenapa kita harus beribadah. Pertanyaan ini termasuk pertanyaan filosofis. Karena itulah sebenarnya bisa saja muncul banyak jawaban tergantung kekuatan nalar dan kedalaman pemahaman agama masing-masing orang. Karena itu di sini saya juga akan menjawabnya dengan kemampuan nalar yang saya miliki. Berbekal pengetahuan tentang filsafat dan pemahaman saya atas ajaran Islam selama ini. Ajaran yang saya tekuni mulai dari saat saya mengaji di mushala, pesantren, hingga perguruan tinggi. Berkenaan dengan pertanyaan di atas “Mengapa manusia harus beribadah?”, di sini saya akan memberikan 4 (empat) macam jawaban. Saya akan mulai dari yang paling sederhana.

 

Pertama, karena beribadah itu perintah Allah.

 

Allah SWT berfirman:

يَٰٓأَيُّهَا ٱلنَّاسُ ٱعۡبُدُواْ رَبَّكُمُ ٱلَّذِي خَلَقَكُمۡ وَٱلَّذِينَ مِن قَبۡلِكُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai manusia, sembahlah Tuhanmu yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa. (QS. Al Baqarah [2]: 21)

 

Saya ulangi lagi, kenapa kita harus beribadah? Jawabnya adalah karena itu perintah Allah. Inilah jawaban yang paling sederhana. Jawaban ini mudah diterima oleh orang awam. Karena semua perintah Allah wajib untuk ditaati, sedangkan Allah menyuruh kita beribadah. Maka jelas sekali bahwa kita juga harus taat atas perintah itu. Jika taat kita akan mendapat pahala, dan jika tidak taat kita akan dosa dan disiksa di neraka.

Betul. Alasan ini bisa diterima pula. Orang awam ini cukup yakin bahwa apa-apa yang disuruh Allah pasti ada manfaat untuk dirinya. Itu saja yang ia paham. Memang betul. Ibadah itu sangat sederhana. Hanya butuh iman dan komitmen dalam menjalankan. Itu bisa dipahami dan dilakukan oleh siapa pun. Apakah ada syarat shalat kita mesti paham arti bacaan-bacaan yang kita baca? Tidak, kan? Tapi sah, kan? Allah pun menerimanya. Allah melihat ke dalam ketulusan hati hambaNya. Itu saja sudah cukup. Tapi bagi orang yang lebih terdidik, jawaban macam ini tentunya tidak memuaskan akal pikirannya. Ia membutuhkan jawaban yang lebih logis daripada ketimbang sekedarnya saja “karena itu perintah Allah”.

 

Kedua, karena kita butuh komunikasi dengan Allah.

Kita percaya ada Allah. Kita percaya bahwa Dia-lah yang mengatur alam semesta ini. Dia-lah “Bos” kita semua. Apa saja jika Dia mau pasti mudah saja terjadi. Nah, bisa dibayangkan betapa pentingnya kita dekat dengan Dia. Bicara dengan Dia. Minta bantuan dan bimbinganNya. Betapa enaknya jika kita dekat dengan “Bos” alam semesta ini. Jika saja kita bisa bicara secara langsung denganNya sungguh membahagiakan. Nah, kabar baiknya ternyata bisa. Kita bisa bicara denganNya. Bisa lebih dekat denganNya. Bahkan Dia sendiri yang suruh agar kita senantiasa datang dan konsultasi denganNya. Coba buka QS. Thaha [20]: 14.

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤

Artinya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha [20]: 14)

 

 

Bahkan Dia sendiri yang membocorkan rahasia tentang trik-trik bagaimana dekat denganNya sehingga Dia akan memberikan segala kemudahan hidup. Lihat misalnya QS. Al Isra [17]: 79.

وَمِنَ ٱلَّيۡلِ فَتَهَجَّدۡ بِهِۦ نَافِلَةٗ لَّكَ عَسَىٰٓ أَن يَبۡعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامٗا مَّحۡمُودٗا ٧٩

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji. (QS. Al Isra [17]: 79).

 

Semua cara untuk dekat dengan Allah dan berkomunikasi denganNya adalah ibadah. Shalat, ibadah utama bagi umat Islam, adalah sebagai media komunikasi dengan Allah secara langsung. Bagi yang paham arti bacaan shalat, dia pasti paham betapa shalat itu sangat indah. Kita benar-benar sedang bercakap-cakap dengan Allah. Jawaban kedua ini sudah setingkat lebih tinggi. Kita melakukan ibadah tidak sekedar karena taat perintah. Akan tetapi kita memahaminya sebagai sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk berkomunikasi dengan Allah.

 

Ketiga, karena kita butuh energi spiritual untuk mengisi jiwa kita.

Apa kaitannya ibadah dengan energi spriritual? Mari akan saya jelaskan. Begini, manusia itu terdiri dari raga dan jiwa. Terdiri dari jasad dan ruh. Kita bisa lihat QS. As-Sajdah [32]: 7-10).

ٱلَّذِيٓ أَحۡسَنَ كُلَّ شَيۡءٍ خَلَقَهُۥۖ وَبَدَأَ خَلۡقَ ٱلۡإِنسَٰنِ مِن طِينٖ ٧ ثُمَّ جَعَلَ نَسۡلَهُۥ مِن سُلَٰلَةٖ مِّن مَّآءٖ مَّهِينٖ ٨ ثُمَّ سَوَّىٰهُ وَنَفَخَ فِيهِ مِن رُّوحِهِۦۖ وَجَعَلَ لَكُمُ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡأَبۡصَٰرَ وَٱلۡأَفۡ‍ِٔدَةَۚ قَلِيلٗا مَّا تَشۡكُرُونَ ٩ وَقَالُوٓاْ أَءِذَا ضَلَلۡنَا فِي ٱلۡأَرۡضِ أَءِنَّا لَفِي خَلۡقٖ جَدِيدِۢۚ بَلۡ هُم بِلِقَآءِ رَبِّهِمۡ كَٰفِرُونَ ١٠

Artinya: (Dialah) yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah, (7) Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina, (8) Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur, (9) Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah lenyap (hancur) dalam tanah, kami benar-benar akan berada dalam ciptaan yang baru?” Bahkan mereka ingkar akan menemui Tuhannya (10). (QS. As-Sajdah [32]: 7-10).

 

Tapi mana yang asli coba? Jasad atau ruh? Ternyata ruh. Jasad hanyalah kerangka sementara untuk ruh. Ruh bersifat kekal. Ketika jasad mati, ruh akan terus berjalan menuju alam terakhir. Oleh karenanya, karena manusia terdiri dari dua unsur tadi, maka tentu saja kita juga harus memperhatikan dua unsur tersebut. Jika raga/jasad mesti kita jaga kesehatannya, demikian juga ruh. Jika jasad kita kasih makan, demikian juga ruh.

Mengabaikan ruh berarti kita menyalahi rumus penciptaan diri kita. Kita mengabaikan salah satu unsur terpenting dalam diri kita. Mengapa terpenting? Karena yang kekal justru ruh tadi. Artinya raga bolehlah sakit. Tapi ruh harus senantiasa sehat. Itu prinsip yang benar. Setiap yang kita lakukan dalam kehidupan ini harus sampai pada raga dan ruh. Yang sampai pada raga itu materinya. Yang sampai pada ruh itu energi spiritualnya. Ambil contoh makan bakso. Apakah bakso ini bisa sampai pada ruh? Bisa. Caranya baca bismillah saat akan makan bakso. Niatkan ibadah. Dengan demikian kita dapat menangkap energi spiritualnya. Baksonya secara materi sampai pada raga kita, energi spiritual dari bakso nyampai pada ruh. Nah, ketemu sekarang. Jadi dengan pemahaman seperti ini, ternyata ibadah adalah cara untuk mengubah materi menjadi energi spiritual. Ini penting kita lakukan agar jiwa kita sehat. Agar ruh kita sehat. Agar hidup kita seimbang dan akhirnya bahagia.

 

Keempat, karena ibadah adalah rumus alam semesta.

Allah menciptakan seluruh alam raya ini satu paket dengan panduannya. Satu paket dengan rumus-rumus tentang bagaimana cara menjalani kehidupan dengan baik sehingga mencapai tujuan hidup, bahagia. Allah-lah yang membuat aturan-aturan bagi alam semesta ini. Sebagian aturan semesta alam ini ada memang yang bisa diketahui manusia. Manusia dapat menemukan teori-teori ilmiah yang ada dalam alam semesta ini. Namun lebih banyak lagi yang manusia tidak ketahui. Buktinya hingga hari ini, di saat tekonologi sudah mencapai titik puncaknya, problem manusia tak kunjung selesai. Hidup ini terus menyajikan berbagai persoalan yang tak berujung.

Ilmu pengetahuan dan teknologi tumbuh seiring dengan munculnya masalah-masalah baru. Tujuan hidup untuk mencapai kebahagiaan yang telah ditegaskan oleh para filosof dan para pelatak dasar-dasar ilmu pengetahuan tak kunjung tercapai. Kenapa bisa demikian? Karena kita menyalahi aturan Allah. Hidup kita tidak sesuai dengan rumus yang telah ditentukan oleh Sang Pencipta Kehidupan. Kita tidak mentaati Allah secara total. Kita salah arah. Kita salah menentukan tujuan hidup.

Sudah kita ketahui bersama bahwa pada umumnya tujuan hidup adalah soal dunia. Kebahagiaan adalah kebahagiaan dunia. Di sinilah letak kesalahannya. Hidup ini kita abdikan untuk mengejar-ngejar materi. Lalu untuk apa seharusnya hidup ini kita abdikan? Mari kita lihat apa kata Allah, Tuhan yang merumuskan kehidupan beserta isinya ini:

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

 

Allah menyatakan dalam ayat di atas bahwa hidup ini adalah untuk beribadah. Ke sinilah seharusnya aktivitas hidup kita arahkan. Semua yang kita lakukan adalah dalam rangka menghamba kepadaNya. Seluruh aktivitas kita didorong oleh motivasi ini. Inilah yang kita selalu ucapkan dalam shalat:

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣

Artinya: Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (162) Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”(163). (QS. al-An’am: 162-163)

 

Tujuan akhir kita yang akan dicapai sama, kabahagiaan. Tapi kebahagiaan akhirat. Inilah tujuan tertinggi kehidupan. Apakah tidak boleh punya tujuan bahagia dunia? Tentu boleh. Tapi hidup di dunia itu bukan tujuan akhir. Itu hanya sarana untuk mencapai tujuan akhir. Kalau berhenti sampai di situ (dunia) kita menyalahi rumus Allah. Yang ada kita sibuk dengan dunia. Tapi tidak bahagia. Inilah yang dipesankan oleh Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya maka Allah akan mencerai beraikan urusannya, dan menjadikan kefakiran di pelupuk matanya, dan dunia tidak akan datang kepadanya melainkan apa yang telah ditetapkan baginya. Dan barangsiapa yang akhirat menjadi tujuannya maka Allah akan menyatukan urusannya, dan menjadikan berkecukupan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan tunduk.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 3313 dan dishahihkan oleh Al-Albani dalam Silsilah Ahadits Shohiihah, no. 950). mJawaban keempat ini kita memahami bahwa ternyata ibadah adalah paket aturan Allah yang harus dijalani agar kita mencapai hidup bahagia sejati, yakni kebahagiaan di dunia dan di akhirat. Dan ibadah ternyata adalah tujuan tertinggi dalam kehidupan kita.

 

  1. Dasar Hukum Ibadah

 

Sebagaimana dijelaskan di atas bahwa Allah menegaskan kepada kita bahwa hidup ini pada hakikatnya adalah untuk mengabdi kepada Allah, beribadah kepada Allah, mentaati perintah Allah. Allah berfirman:

 

وَمَا خَلَقۡتُ ٱلۡجِنَّ وَٱلۡإِنسَ إِلَّا لِيَعۡبُدُونِ ٥٦

Artinya: Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

 

 

 

إِنَّنِيٓ أَنَا ٱللَّهُ لَآ إِلَٰهَ إِلَّآ أَنَا۠ فَٱعۡبُدۡنِي وَأَقِمِ ٱلصَّلَوٰةَ لِذِكۡرِيٓ ١٤

Artinya: Sesungguhnya Aku ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain Aku, maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku. (QS. Thaha [20]: 14)

 

قُلۡ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحۡيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ ٱلۡعَٰلَمِينَ ١٦٢ لَا شَرِيكَ لَهُۥۖ وَبِذَٰلِكَ أُمِرۡتُ وَأَنَا۠ أَوَّلُ ٱلۡمُسۡلِمِينَ ١٦٣

Artinya: Katakanlah: sesungguhnya sembahyangku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam, (162) Tiada sekutu bagi-Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”(163). (QS. al-An’am: 162-163)

 

  1. Pengertian Ibadah

Kali ini kita akan membahas pengertian ibadah. Khusus tentang tema ini. Agar kita dapat memahami dengan baik. Pemahaman akan pengertian ibadah ini sangat penting agar kita dapat mengarahkan seluruh aktivitas kita ke dalam kategori ibadah. Sebab hanya dengan cara inilah amalan kita akan dipandang dan bernilai di di hadapan Allah SWT.

Pertama, pengertian ibadah secara bahasa (etimologi)

Menurut arti kata (etimologi), ibadah artinya: (1) ta’at الطاعة)); (2) tunduk الخضوع)) (3) hina (الذلّ) dan (4) pengabdian (التنسّك). Jadi ibadah itu merupakan bentuk ketaatan, ketundukan, dan pengabdian kepada Allah.

Kedua, pengertian ibadah secara istilah (terminologi)

Pengertian ibadah secara terminologi, jika kita merujuk pada buku-buku, ada banyak. Satu sama lain berbeda redaksi. Tapi intinya sama. Nah, diantara yang banyak itu saya ambilkan yang menurut saya paling sederhana dan mencakup inti utamanya. Ibadah adalah:

ما أديت ابتغاء لوجه الله وطلبا لثوبه فى الآخرة

Maa uddiyat ibtighoo-an liwajhillah wa tholaban litsawaabihi fil akhiroh.

Artinya: Segala hal yang dikerjakan untuk mencapai keridhaan Allah dan mengharap pahala-Nya di akhirat.

 

 

Mari kita perhatikan lebih cermat lagi. Disebutukan di sana “segala hal”. Yah, semua hal yang kita kerjakan, seluruh sikap, perkataan dan perbuatan kita. Bekerja mencari nafkah, berbincang dengan tetangga, mengajar, berbisnis, shalat, puasa, dan seterusnya, semua itu adalah ibadah ketika apa? Ketika dikerjakan dengan niat karena Allah, karena itu kita tunduk kepadaNya, semata-mata hanya mencari ridhaNya dan mengharap balasan amal di akhirat. Kita melakukannya karena Allah. Itulah syarat sebuah amal bernilai di hadapan Allah dan kemudian disebut dengan ibadah. Jadi jika semua amal itu dilakukan bukan karena Allah, maka tidak disebut ibadah dan tentunya tidak akan nilainya di hadapan Allah.

Karena itulah Rasulullah SAW bersabda:

كم من عمل يتصور بصورة أعمال الدنيا ويصير بحسن النية من أعمال الأخرة وكم من عمل يتصور بصورة أعمال الأخرة ثم يصير من أعمال الدنيا بسوء النية

Kam min ‘amalin yatashowwaru bishuroti a’maliddun-ya wa yashiiru bihusninniyat min a’malil akhiroh. Wa kam min ‘amalin yatashowwaru bishuuroti a’malil akhiroh tsumma yashiiru min a’maliddun-ya bissuu-in niyyah.

 

Banyak amal perbuatan yang berbentuk amal dunia, lalu menjadi amal akhirat karena bagusnya niyat, dan banyak pula amal yang berbentuk amal akhirat, kemudian menjadi amal dunia karena buruknya niyat. (Dikutip dari Kitab Ta’lim al-Muta’allim Karya Imam Buhanuddin Az-Zarnuji pada Bab Niat).

 

Bekerja mencari nafkah adalah pekerjaan dunia. Tapi bila diniatkan karena Allah, maka menjadi bernilai ibadah, mempunyai nilai akhirat. Shalat wujudnya adalah pekerjaan akhirat. Wujudnya adalah ibadah. Tapi bila niatnya bukan karena Allah. Mungkin saja shalat hanya untuk pantes-pantes pergaulan misalnya. Maka ia tak ada nilainya di hadapan Allah. Pada hakikatnya shalat yang seperti itu bukan lagi bernilai ibadah.

Saudaraku, sampai sini sudah cukup jelas apa itu ibadah, ya? Nah, yang lebih penting adalah sekarang kita tahu bagaimana mengarahkan seluruh aktivitas kita agar mempunyai nilai kebaikan di hadapan Allah. Awali semuanya dengan niat karena Allah. Ingat Allah dalam seluruh aktivitas kita. Baca basmallah pada setiap mengawali aktivitas. Tanpa itu aktivitas kita sia-sia belaka. Kita tidak mendapatkan energi positif dalam setiap gerak langkah sehingga kehidupan kita juga menjadi suram. Hidup tidak berkualitas, bahkan tidak berkah.

Perhatikan kembali, fahami, dan renungkan agar apa yang kita pahami dapat kita tindak lanjuti dalam amal perbuatan kita. Tapi bagi yang mau menambah saya kasih tambahan sedikit. Itu kalau sekiranya merasa perlu. Kalau malah menambah bingung tidak usah dilanjutkan baca. Penjelasan di atas sekali lagi sudah cukup.

Nah, bagi yang masih mau lanjut saya tambahkan sedikit pengertian ibadah menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dan menurut Imam Ibn Taimiyyah.

Sekali lagi intinya sama. Jangan malah menjadi bingung terus berpikir: banyak benar definisi ibadah mana sih yang benar? Anggap saja ini untuk menambah wawasan dan memperkuat pemahaman kita di atas. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, ibadah adalah perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Lalu Imam Ibnu Taimiyyah mendefinisikan:

 

الْعِبَادَة هِيَ اسْم جَامع لكل مَا يُحِبهُ الله ويرضاه من الْأَقْوَال والأعمال الْبَاطِنَة وَالظَّاهِرَة

Al ‘Ibadatu ismun jaami’un likulli maa yuhibbuhulloh wa yardhoohu, minal aqwaal wal a’maal, al baathinah wadzhohiroh.

 

Ibadah adalah istilah yang digunakan untuk menyebut semua hal yang dicintai dan diridhai oleh Allah, baik berupa ucapan, atau perbuatan, yang dzahir maupun bathin. (Risalah al-Ubudiyah, hlm. 2).

 

Coba perhatikan, secara subtansi sama, hanya berbeda redaksi saja. Tapi arah intinya sama seperti yang telah kita pahami di atas. sehingga semakin mantap dan kokoh pemahaman kita. Sekali lagi jangan pernah berhenti hanya sekedar memahami definisi. Tetapi marilah kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari agar seluruh aktivitas kita mendapat nilai di hadapan Allah. Agar menjadi tumpukkan modal kita untuk membeli surga Allah. Wallohu a’lam bishawwaab.

 

 

  1. Macam-macam Ibadah

Pada pembahasan sebelumnya kita telah menjelskan Pengertian Ibadah, kita telah memahami bahwa ibadah mencakup seluruh aktivitas manusia, asalkan di sana diniatkan karena Allah. Aktivitas-akivitas yang kita lakukan itu sebenarnya dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua): Pertama, aktivitas yang secara langsung berhubungan dengan Allah (hablun minallah). Kedua, akitivitas yang berhubungan dengan manusia dan kehidupannya di dunia (hablun minannas). Yang nomor dua dapat pula kita sebut sebagai aktivitas yang tidak secara langsung berhubungan dengan Allah. Secara fisik memang hubungannya dengan manusia dan kehidupannya. Tetapi karena kita niatkan hanya untuk Allah maka ia menjadi bernilai ibadah, sehingga ada hubungannya dengan Allah.

Untuk jenis ibadah yang pertama itulah yang disebut dengan istilah ibadah mahdhah (ibadah murni). Sedangkan yang kedua disebut dengan ibadah ghairu mahdhah (ibadah tidak murni). Jadi ibadah terbagi ke dalam 2 (dua) jenis: ibadah mahdhah dan ibadah ghairu mahdah. Pengertian dari masing-masing ini pasti juga sudah paham. Mari tengok kembali lagi penjelasan di atas.

Paham, ya? Mengerti definisi masing-masing? Atau masih bingung merangkai katanya? Baiklah, saya bantu. Ibadah mahdhah adalah aktivitas berkenaan dengan hubungan manusia dengan Allah yang diniatkan karenaNya. Yuk, kita cek kata per kata biar jelas. Pertama, ada aktivitas dalam bentuk ucapan maupun berbuatan tertentu. Kedua, aktivitas itu merupakan hubungan langsung antara manusia dengan Allah. Ketiga, aktivitas itu diniatkan karena Allah. Jika tidak diniatkan karena Allah, meski bentuk aktivitasnya adalah hubungan dengan Allah, maka tidak menjadi ibadah. Sehingga tidak terkoneksi dengan Allah dan tidak ada nilainya di hadapan Allah.

Ibadah ghairu mahdhah adalah aktivitas bekrenaan dengan hubungan manusia dengan sesamanya dan kehidupan dunianya yang ia niatkan karena Allah. Yuk kita cek lagi kata per kata. Yuk, kita cek kata per kata biar jelas. Pertama, ada aktivitas dalam bentuk ucapan maupun berbuatan tertentu. Kedua, aktivitas itu merupakan hubungan langsung antara manusia dengan sesamanya dan kehidupan dunianya. Jadi dari sisi bentuk, aktivitas ini bentuknya aktivitas duniawai. Ketiga, aktivitas itu diniatkan karena Allah. Niat hanya untuk Allah inilah kemudian yang memberi nilai pada aktivitas yang berbentuk duniawai itu menjadi nilai akhirat (ukhrowi), mempunyai nilai ibadah di hadapan Allah. Kalau tidak ada niat ini maka aktivitas itu semata-mata aktivitas duniawi. Tidak ada nilainya di hadapan Allah dan tidak bisa disebut dengan ibadah.

Masing-masing dari kedua jenis ibadah di atas mempunyai karakter masing-masing dari sisi bentuk/tatacaranya, asas, dan sifatnya. Karakteristik Ibadah Mahdah, bentuk atau tatacara ibadah mahdah adalah mengikuti secara persis apa yang diajarkan Allah melalui Rasulullah SAW, karena itulah azasnya adalah taat, dan sifatnya supra rasional.

 

Allah SWT berfirman:

وَمَآ ءَاتَىٰكُمُ ٱلرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَىٰكُمۡ عَنۡهُ فَٱنتَهُواْۚ وَٱتَّقُواْ ٱللَّهَۖ إِنَّ ٱللَّهَ شَدِيدُ ٱلۡعِقَابِ ٧

Artinya: Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

 

Jadi prinsip utamanya adalah mengikuti apa adanya tanpa menalar-nalar secara rasional. Misal begini, kita mikir-mikir: shalat di Indonesia masa pakai bahasa Arab, atau wudhu misalnya kita mikir begini: yang kentut pantat kok yang dibasuh muka, ya. Atau tentang ibadah kurban misalnya mikir begini: ah, itu kan ibadah primitif. Sekarang sudah tidak relevan. Nah, semua itu itu tidak boleh. Jadi dalam ibadah tidak ada kreativitas.

Rumus ibadah mahdhah adalah:

IM = AT + SR

[IM: ibadah mahdhah = AT (Azas Taat) + SR (Supra Rasional)]

Karakteristik Ibadah Ghairu Mahdhah: bentuk atau tatacaranya sesuai dengan dinamika perkembangan peradaban manusia, karena itu azasnya adalah kebermanfaatan bagi kehidupan manusia, dan sifatnya tentu saja rasional. Artinya kegiatan-kegiatan itu dapat kita pikirkan secara rasional bentuk dan kebermanfaatannya. Karena itulah ibadah mahdhah mengedepankan inovasi dan kreativitas.

Rasulullah SAW bersabda:

أَنْتُمْ أَعْلَمُ بِأَمْرِ دُنْيَاكُمْ

Kamu lebih mengetahui urusan duniamu.  (HR. Muslim, no. 2363)

 

Rumus untuk memahami ibadah ghairu mahdhah adalah:

IGM = AM + R

[IG: Ibadah Ghairu Mahdhah= Azas Manfaat + Rasional].

 

  1. Hubungan Ibadah dan Akhlak

Ibadah yang dilakukan dengan benar akan mempengaruhi tuturkata, sikap, dan perilaku kita sehari-hari. Seorang muslim yang ibadahnya baik, tapi perilakunya tidak baik, pasti ada kesalahan dalam memahami dan mengamalkan agamanya. Mungkin shalat dan seluruh ibadahnya ia jalankan hanya sekedar ikut-ikutan, sekedar adaptasi, hanya dijalankan sebagai syarat untuk menggugurkan kewajiban. Ia tidak memahami dan menghayati ibadah yang ia jalankan. Ia berdiri, takbir, rukuk, dan seterusnya. Tapi hatinya kosong dari Allah. Ia hanya menjalankan rutinitas belaka. Dia tidak marasa berdiri di hadapan Allah.

Jika kita kembalikan pada definisi ibadah sebelumnya maka menjadi jelas. Ini karena ia tidak meniatkan dan mengikhlaskan aktivitas ibadahnya karena Allah. Wujudnya aktivitas ibadah, tapi sejatinya bukan ibadah karena kurang syarat: tidak ada niat karena Allah. Atau mungkin ia adalah orang yang fanatik buta dalam memahami agamanya. Dia berpikir agama hanya urusan akhirat, agama hanya soal kematian, hanya soal mengumpulkan pahala. Hal ini membaut semangat ibadahnya kehilangan relevansinya pada kehidupan dunia.

Padahal agama itu adalah jalan hidup (way of life). Agama adalah pranata kehidupan. Ia harus nyata dan fungsional dalam kehidupan. Jika tidak maka agama akan dibenci dan ditinggalkan orang. Keberhasilan Rasulullah SAW dalam mendakwahkan Islam bukan hanya terletak pada kekuatan argumentasi dalam meyakinkan masyarakat bahwa Islam adalah “satu-satunya yang benar”. Tetaapi karena Rasulullah SAW berhasil menunjukkan Islam sebagai solusi kehidupan. Rasulullah SAW menjadi role model, menjadi teladan kebaikan (uswatun hasanah), bukan hanya penceramah kebaikan.

 

Karena itulah Rasulullah SAW kemudian bersbda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

Innamaa bu’itstu li-utammima shoolihal akhlak

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.

 

 

Hadits ini shahih lighairihi, diriwayatkan oleh Ahmad bin Hambal dengan lafadz ini dalam Musnad-nya 2/381, Imam Al Haakim dalam Mustadrak-nya 2/613, dan Imam Al Bukhari dalam kitabnya Adabul Mufrad no. 273). Akhlak mulia kata Rasul adalah tujuan utama beliau diutus di dunia. Akhlak mulia adalah salah satu buah nyata dari serangkaian amalan ibadah yang kita jalankan. Tentu bukan pula berarti: kalau begitu yang penting akhlak baik walaupun tidak beribadah. Tentu saja bukan seperti itu. Ibadah dan akhlak adalah satu kesatuan. Jika kita kembali pada definisi ibadah di atas tentu sangat jelas. Islam tak memisah-misahkan antara urusan dunia dengan akhirat.

Semuanya harus dihambakan di hadapan Allah dan buah penghambaan itu harus berbuah pada pergaulan sosial, pada kehidupan sehari-hari. Karena itulah, orang yang saleh bukanlah orang yang hanya baik ibadahnya saja, atau hanya baik pergaulan sosialnya saja. Tapi kedua-duanya harus baik. Imam Ibnu Hajar berkata, orang salih adalah:

 

الْقَائِم بِمَا يَجِب عَلَيْهِ مِنْ حُقُوق اللَّه وَحُقُوق عِبَاده

Al Qoo-im bimaa yajibu ‘alaihi min huquuqillah wa huquuqi ‘ibaadihi

Orang yang menjalankan kewajiban terhadap Allah dan kewajiban terhadap sesama hamba Allah. (Fathul Bari, 2: 314).

 

Ibadah adalah pelatihan untuk menguasai inti jiwa kita agar menjadi jiwa yang tunduk, pasrah, sederhana, dan rendah hati. Dengan ini seorang muslim akan hadir menjadi penyejuk, pengayom, dan menjadi rahmat bagi seluruh umat manusia. Hal ini selaras dengan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Abdullah bin Amru RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda:

 

وَالَّذِي نَفْسُ ‏ ‏مُحَمَّدٍ ‏ ‏بِيَدِهِ إِنَّ مَثَلَ الْمُؤْمِنِ ‏ ‏كَمَثَلِ النَّحْلَةِ أَكَلَتْ طَيِّبًا وَوَضَعَتْ طَيِّبًا وَوَقَعَتْ فَلَمْ تَكْسِر ولم تُفْسِد

Walladzii nafsu muhammadin biyadihi, inna matsalal mu’mini kamatsalinnahlati, akalat thoyyiban wa wadho’at thoyyiban, wa waqo’at falam taksir walam tufsid.

 

 

Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di tanganNya, sesungguhnya perumpamaan mukmin itu bagaikan lebah yang selalu memakan yang baik dan mengeluarkan yang baik. Ia hinggap (di ranting) namun tidak membuatnya patah dan rusak. (HR Ahmad dan dishahihkan oleh Ahmad Syakir).

 

Sehubungan dengan hal ini Rasulullah SAW bersabda:

خَيْرُ الناسِ أَنْفَعُهُمْ لِلناسِ

Khoirunnaas anfa’uhum linnaas

Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia. (HR. Ahmad, ath-Thabrani, ad-Daruqutni. Hadits ini dihasankan oleh al-Albani di dalam Shahihul Jami’ no: 3289).

 

Semua ini bukan hanya omongan saja. Tetapi Rasulullah SAW telah menjadi model nyata. Orang-orang kafir bahkan menjadi saksi kebaikan akhlak Rasulullah SAW. Para sahabat yang hidup disekeliling Rasulullah SAW menyaksikan dengan mata kepala sendiri bahwa Rasulullah adalah manusia terbaik akhlaknya.

كَانَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَحْسَنَ النَّاسِ خُلُقاً

Kaana rosuululloohi shollallohu ‘alaihi wasallam ahsanunnaasi khuluqon.

 

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah orang yang paling baik akhlaknya. (HR. Bukhari-Muslim).

 

 

LATIHAN I

  1. Sebutkan 2 alasan mengapa manusia perlu beribadah?
  2. Apa yang dimaksud dengan ibadah?
  3. Apa yang dimaksud dengan ibadah mahdhah dan bagaimana prinsipnya?
  4. Apa yang dimaksud dengan ibadah ghairu mahdhah dan bagiaman prinsipnya?
  5. Apa hubungan ibadah dengan akhlak?

 

KUNCI JAWABAN I

  1. Sebutkan 2 alasan mengapa manusia perlu beribadah?

Jawaban: Pertama, manusia ibadah adalah perintah Allah dan sebagai makhluk ciptaan Allah kita harus mentaati semua perintahNya. Kedua, sebagai sarana untuk merawat komonen ruhani kita.

  1. Apa yang dimaksud dengan ibadah?

Jawaban: Ibadah adalah segala sesuatu yang kita kerjakan dengan niat untuk mentaati perintahNya dan mencari ridhaNya.

  1. Apa yang dimaksud dengan ibadah mahdhah? Bagaimana prinsipnya dan sebutkan contohnya!

Jawaban: Ibadah mahdhah adalah ibadah murni, yaitu ibadah yang ditujukan langsung atau berhubungan langsung dengan Allah. Prinsip ibadah ini adalah mengikuti apa adanya sebagaimana yang diperintahkan Allah. Rumus ibadah mahdhah adalah: IM = AT + SR [IM: ibadah mahdhah = AT (Azas Taat) + SR (Supra Rasional). Contohnya adalah shalat dan haji.

  1. Apa yang dimaksud dengan ibadah ghairu mahdhah dan bagiaman prinsipnya?

Jawaban: Ibadah ghairu mahdhah adalah ibadah non murni, yaitu ibadah yang tidak langsung berhubungan dengan Allah. Prisnpi ibadah ini adalah meniatkan segala perbuatan karena Allah sedangkan bentuk perbuatan didasarkan para prinsip kebermanfaatan dan mengikuti perkembangan zaman dengan rumus: IGM = AM + R (IG: Ibadah Ghairu Mahdhah= Azas Manfaat + Rasional).

  1. Apa hubungan ibadah dengan akhlak?

Jawaban: Tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Agama ini adalah aturan hidup sehingga segala ibadah harus ada buahnya dalam kehidupan dalam bentuk akhlak mulia.

 

RANGKUMAN I

  1. Manusia diperintahkan Allah untuk beribadah. Manfaat ibadah sesungguhnya bukan untuk Allah. Tapi untuk manusia itu sendiri. Ada beberapa alasan mengapa manusia harus beribadah: 1) ibadah merupakan perintah Allah dimana kita sebagai makhluk ciptaannya harus mentaati semua perintahNya, 2) ibadah adalah alat komunikasi dengan Allah. Kita tentu penting berkomunikasi dengan Allah karena Allahlah pengatur alam semesta ini dan cara berkomunikasi tersebut menggunakan ibadah, 3) ibadah adalah cara untuk merawat komponen ruhani kita, 4) ibadah adalah rumus semesta alam. Artinya jika kita tidak beribadah sesungguhnya kita sudah menyalahi salah satu bahkan prinsip dasar alam semesta ini.
  2. Apa yang dimaksud dengan ibadah?

Ibadah adalah segala sesuatu yang kita kerjakan dengan niat untuk mentaati perintahNya dan mencari ridhaNya. Apa yang ita kerjakan bisa bersifat pekerjaan akhirat seperti shalat, puasa, dan lain-lain dan ada juga yang bersifat keduniaan seperti mencari nafkah, bertetangga, dan lain-lain. Semua itu akan bernilai ibadah jika kita niatkan karena Allah.

  1. Ibadah terbagi menjadi dua macam yaitu; ibadah mahdhah dan ghairu mahdhah. Ibadah mahdhah adalah ibadah murni, yaitu ibadah yang ditujukan langsung atau berhubungan langsung dengan Allah. Prinsip ibadah ini adalah mengikuti apa adanya sebagaimana yang diperintahkan Allah. Rumus ibadah mahdhah adalah: IM = AT + SR [IM: ibadah mahdhah = AT (Azas Taat) + SR (Supra Rasional). Contohnya adalah shalat dan haji. Sedangkan ibadah ghairu mahdhah  adalah ibadah non murni, yaitu ibadah yang tidak langsung berhubungan dengan Allah. Prisnpi ibadah ini adalah meniatkan segala perbuatan karena Allah sedangkan bentuk perbuatan didasarkan para prinsip kebermanfaatan dan mengikuti perkembangan zaman dengan rumus: IGM = AM + R (IG: Ibadah Ghairu Mahdhah= Azas Manfaat + Rasional).
  2. Tujuan diutusnya Nabi Muhammad SAW adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia. Agama ini adalah aturan hidup sehingga segala ibadah harus ada buahnya dalam kehidupan dalam bentuk akhlak mulia.

 

 

 

Leave A Reply

Your email address will not be published.

WeCreativez WhatsApp Support
kami disini untuk membantu anda!
👋Assalamu'alaikum ada yang bisa dibantu?