LDKMUH.OR.ID, Jakarta — Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyelenggarakan Ramadan Iftar Gathering bersama Kedutaan Besar Republik Azerbaijan untuk Indonesia dan OIC Youth Indonesia di Aula PP Muhammadiyah, Jakarta. Kegiatan ini menjadi momentum mempererat persahabatan Indonesia–Azerbaijan sekaligus memperkuat nilai toleransi dan harmoni di dunia Islam.
Mengusung tema “Strengthening Connectivity and Values-Based Smart Power for Tolerance and Harmony in the Islamic World”, kegiatan ini menghadirkan tokoh diplomasi, aktivis kepemudaan, serta pegiat dakwah yang berdiskusi mengenai pentingnya kolaborasi lintas komunitas dalam memperkuat peran umat Islam di tingkat global.
Ketua LDK PP Muhammadiyah Muchamad Arifin menegaskan bahwa Muhammadiyah melalui LDK terus mengembangkan dakwah yang menyentuh langsung kehidupan masyarakat, terutama di berbagai komunitas dan wilayah terpencil.
“Dakwah Muhammadiyah tidak hanya di mimbar, tetapi juga di luar mimbar. Kami berupaya hadir langsung di tengah masyarakat, termasuk melakukan outreach dakwah hingga ke daerah-daerah terpencil,” ujar Arifin.
Ia menambahkan bahwa forum buka puasa bersama seperti ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat silaturahmi sekaligus membangun jaringan kolaborasi antarorganisasi dan komunitas Muslim dari berbagai negara.
“Forum buka puasa bersama ini menjadi wadah untuk saling mengenal dan memperkuat jaringan kebersamaan,” lanjutnya.
Arifin juga menyoroti kontribusi Muhammadiyah di bidang pendidikan yang telah menjangkau berbagai wilayah di Indonesia, termasuk kawasan timur seperti Papua dan Nusa Tenggara Timur.
Menurutnya, banyak lembaga pendidikan Muhammadiyah di daerah tersebut bahkan memiliki mayoritas siswa non-Muslim.
“Perguruan Tinggi Muhammadiyah telah hadir di Sorong, Papua, serta di Nusa Tenggara Timur. Banyak sekolah Muhammadiyah di wilayah tersebut memiliki siswa mayoritas non-Muslim, bahkan mencapai sekitar 85 persen. Ini menunjukkan bahwa pendidikan Muhammadiyah terbuka bagi semua kalangan,” jelasnya.
Presiden OIC Youth Indonesia Astrid Nadya Rizqita dalam sambutannya juga menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar bulan menahan lapar dan dahaga, tetapi momentum refleksi spiritual dan penguatan nilai-nilai kehidupan.
“Ramadan sering dipahami sebagai bulan puasa. Namun pada hakikatnya, Ramadan adalah bulan Al-Qur’an, bulan kejernihan, penyelarasan kembali, dan refleksi. Puasa bukan sekadar menahan diri dari makan dan minum, tetapi disiplin spiritual untuk kembali fokus pada hal-hal yang penting dalam kehidupan,” ungkapnya.
Sementara itu, Dewan Pembina OIC Youth Indonesia Beni Pramula menyampaikan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya memperkuat hubungan antarnegara anggota Organisasi Kerja Sama Islam (OKI).
“Forum seperti ini bukan hanya sekadar buka puasa bersama, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan persahabatan serta memperkuat kerja sama antarnegara anggota OKI, termasuk antara Indonesia dan Azerbaijan,” ujarnya.
Dalam diskusi yang berlangsung, para peserta juga menyoroti peran generasi muda sebagai jembatan yang menghubungkan masyarakat lintas negara sekaligus menjaga kesinambungan hubungan diplomatik di masa depan.
Selain itu, hubungan Indonesia dan Azerbaijan juga memiliki dimensi sejarah yang menarik. Sejumlah kajian akademik, termasuk yang dibahas oleh peneliti Azerbaijan Zaur Aliyev, mengemukakan hipotesis bahwa Maulana Malik Ibrahim, salah satu tokoh Wali Songo yang dikenal sebagai Sunan Gresik, memiliki keterkaitan dengan kawasan Kaukasus, termasuk wilayah Azerbaijan saat ini.
Narasi tersebut menjadi pengingat bahwa hubungan antara masyarakat di dunia Islam telah terjalin sejak berabad-abad lalu melalui jaringan perdagangan, dakwah, dan pertukaran budaya.
Ke depan, Azerbaijan juga akan menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) pada tahun 2026 yang akan mempertemukan para kepala negara anggota.
Kegiatan Ramadan Iftar Gathering ini turut dihadiri Prof. Husnan Bey Fanani, Duta Besar Republik Indonesia untuk Azerbaijan periode 2016–2020, serta Bunyan Saptomo, mantan Duta Besar Republik Indonesia untuk Bulgaria dan Albania.
Melalui kegiatan ini, LDK PP Muhammadiyah menegaskan komitmennya untuk terus mendorong dakwah komunitas yang inklusif serta memperkuat jaringan kolaborasi global dalam membangun harmoni di dunia Islam. (Najih)
