Oleh: Miqdam Awwali Hashri, S.E., M.Si (LDK PP Muhammadiyah, Mahasiswa Doktoral Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah, Pegiat Sepeda)
Bersepeda kini bukan sekadar aktivitas olahraga atau sarana mobilitas, melainkan telah menjelma sebagai gerakan sosial yang memiliki nilai dakwah sekaligus filantropi. Sejarah Muhammadiyah mencatat istilah tabligh fiets dan derma fiets sejak tahun 1928. Tabligh fiets dipahami sebagai tabligh dengan sepeda, yaitu menjadikan sepeda sebagai sarana dakwah yang sederhana namun efektif. Sementara derma fiets merupakan inisiatif penggalangan dana untuk membeli sepeda dalam rangka menunjang kegiatan tabligh. Fakta ini menegaskan bahwa sejak awal, sepeda telah hadir sebagai instrumen dakwah, filantropi, sekaligus gaya hidup modern yang melekat bagi warga Muhammadiyah.
Di tengah arus modernisasi transportasi, gagasan bersepeda sebagai dakwah terasa semakin relevan. Sepeda adalah simbol kesederhanaan, keberlanjutan, dan kemandirian. Tidak membutuhkan bahan bakar fosil, sepeda merupakan kendaraan ramah lingkungan sekaligus mendukung gaya hidup sehat. Karena itu, ketika Muhammadiyah sejak hampir seabad lalu telah menggunakan sepeda sebagai sarana tabligh, maka sejatinya organisasi ini telah mempraktikkan prinsip dakwah yang kontekstual, yaitu menyatu dengan kebutuhan zaman sekaligus memberi teladan hidup berkemajuan. Warisan ini patut terus dihidupkan, terutama di era di mana isu lingkungan, kesehatan publik, dan kepedulian sosial menjadi telah agenda global.
Jika ditarik lebih jauh, gerakan tabligh fiets dan derma fiets ini dapat dipahami sebagai bagian dari dakwah bil-hal, yakni dakwah melalui perbuatan nyata. Dakwah tidak semata mengandalkan retorika, melainkan diwujudkan dalam praktik kehidupan sehari-hari. Ketika seorang mubaligh bersepeda dari satu lokasi ke lokasi lain, ia bukan hanya menyampaikan pesan agama, tetapi sekaligus mencontohkan gaya hidup hemat, sehat, dan ramah lingkungan. Begitu juga dengan derma fiets, yang bukan saja soal penggunaan sarana transportasi, melainkan representasi dari solidaritas sosial yang terorganisir.
Dalam konteks kekinian, nilai-nilai tersebut dapat diterjemahkan ulang agar tetap relevan. Bersepeda bisa dikembangkan menjadi gerakan dakwah publik yang menghubungkan tiga dimensi sekaligus, antara lain: teologis, ekologis, dan sosiologis. Dimensi teologis menekankan bahwa kebersahajaan, menjaga kesehatan, dan lingkungan adalah bagian dari amanah keagamaan. Dimensi ekologis menegaskan kontribusi nyata bersepeda dalam mengurangi polusi dan emisi karbon. Sedangkan dimensi sosiologis menggarisbawahi fungsi sepeda dalam memperkuat kohesi sosial, membangun interaksi antarwarga, serta menumbuhkan kepedulian kolektif. Trilogi dakwah sepeda ini menjadi fondasi konseptual yang kokoh bagi pengembangan gerakan sepeda dakwah di era kontemporer.
Selain landasan historis, gerakan dakwah sepeda Muhammadiyah juga menemukan relevansi dalam kerangka pemikiran kontemporer. Prof. Haedar Nashir dalam gagasannya tentang paradigma teoantroposentris menekankan bahwa kesadaran teologis dan kemanusiaan harus berjalan seiring dalam merespons krisis lingkungan. Dengan kacamata ini, bersepeda bukan sekadar pilihan gaya hidup sehat, tetapi juga ekspresi tanggung jawab spiritual untuk menjaga bumi sebagai amanah. Perspektif ini sejalan dengan agenda global aksi iklim, sehingga menjadikan Muhammadiyah bukan hanya organisasi dakwah, tetapi juga pelopor gerakan keberlanjutan.
Ketokohan Buya Syafii Maarif memberi legitimasi moral tambahan. Beliau bukan hanya dikenal sebagai guru bangsa, tetapi juga sosok yang sederhana dalam keseharian. Penghargaan Bike to Work Indonesia Awards 2021 yang pernah diberikan kepada beliau menegaskan bahwa bersepeda adalah bagian dari teladan hidup yang membumi. Buya merupakan simbol pesepeda Muhammadiyah yang perlu diteladani oleh warga persyarikatan.
Lebih luas lagi, pandangan filosofis Seyyed Hossein Nasr tentang krisis ekologi sebagai akibat terputusnya hubungan manusia dengan nilai-nilai spiritual dapat menjadi refleksi penting. Bersepeda, dengan kesederhanaan dan keramahannya terhadap lingkungan, dapat dipahami sebagai praktik spiritual yang menyambungkan kembali manusia dengan lingkungannya. Dari sinilah dakwah sepeda Muhammadiyah memperoleh kedalaman makna. Ia bukan hanya respons praktis permasalahan polusi, tetapi juga tawaran filosofis tentang cara hidup yang lebih selaras dengan fitrah manusia dan alam.
Gerakan ini dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk kegiatan yang sederhana namun bermakna. Misalnya, komunitas sepeda Muhammadiyah bisa menggelar program rutin seperti “bike to dakwah” dengan menjadikan sepeda sebagai sarana mobilitas dakwah. Di sisi lain, sepeda juga bisa dipakai sebagai sarana aksi lingkungan, seperti kampanye anti polusi dan emisi, atau edukasi tentang perubahan iklim global. Bahkan, konsep derma fiets dapat dihidupkan kembali dengan memadukan teknologi digital, yaitu melalui crowdfunding atau aplikasi filantropi untuk mendukung penggalangan dana sosial. Dengan demikian, sepeda hadir bukan sekadar alat transportasi, tetapi juga simbol konsistensi gerakan dakwah yang adaptif dan solutif dalam menyikapi isu global.
Lebih jauh, dakwah sepeda juga dapat diposisikan sebagai ruang pembelajaran sosial. Dakwah sepeeda dapat melibatkan warga lintas usia, profesi, dan latar belakang. Komunitas sepeda membuka ruang perjumpaan yang egaliter. Tidak ada sekat sosial ketika orang bersepeda bersama karena semua setara, sama-sama mengayuh pedal. Kesetaraan inilah yang sekaligus mencerminkan nilai dasar Islam, yaitu ukhuwah, persaudaraan, dan kebersamaan dalam kebaikan. Dari sinilah tumbuh kesadaran kolektif bahwa dakwah bukan monopoli mimbar, melainkan praktik yang bisa hadir di jalanan, di ruang publik dalam relasi keseharian.
Potensi pengembangan dakwah sepeda juga bisa diarahkan ke ranah pendidikan dan pemberdayaan ekonomi. Misalnya, melalui program pelatihan mekanik sepeda bagi anak muda, atau pendirian koperasi komunitas sepeda yang menjual suku cadang murah sekaligus menyalurkan sebagian keuntungan untuk kegiatan sosial. Dengan pola ini, sepeda tidak hanya berfungsi sebagai sarana dakwah dan aksi sosial, tetapi juga sebagai instrumen pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Ini sejalan dengan semangat Muhammadiyah yang sejak awal menekankan pentingnya dakwah pencerahan, yaitu: memadukan aspek spiritual, sosial, dan ekonomi.
Selain itu, sepeda juga dapat menjadi jembatan diplomasi budaya. Kegiatan fun bike lintas komunitas, misalnya, dapat dimanfaatkan sebagai sarana silaturahmi antarorganisasi, bahkan lintas agama. Peserta yang datang dari beragam latar belakang dipertemukan dalam semangat yang sama, yaitu: hidup sehat, peduli lingkungan, dan berbagi kebaikan. Dari sini, dakwah sepeda menjelma sebagai gerakan inklusif yang mempromosikan Islam rahmatan lil-‘alamin melalui praktik nyata, bukan sekadar retorika.
Gerakan dakwah sepeda sesungguhnya bisa dimulai dari hal yang sederhana, yakni menghidupkan kembali semangat bersepeda yang dimulai dari LDK Muhammadiyah di daerah. Dari sinilah energi warga persyarikatan dapat disalurkan. Sementara itu LDK PP Muhammadiyah hadir memberi arah, membimbing, dan menyiapkan pedoman agar langkahnya seragam. Jika gerakan ini dipadukan dengan kepedulian lingkungan yang digerakkan oleh Majelis Lingkungan Hidup, serta semangat olahraga yang dikembangkan Lembaga Pengembangan Olahraga. Dengan kolaborasi tersebut maka akan lahir satu kekuatan baru, yaitu Komunitas Pesepeda Muhammadiyah. Inilah wadah yang dapat menyatukan para pesepeda Muhammadiyah dari berbagai penjuru, menghadirkan sepeda bukan sekadar alat mobilitas, melainkan sebagai simbol dakwah berkemajuan sebagai salah satu respon terhadap tantangan global.
Pada akhirnya, dakwah sepeda melalui komunitas dapat menyuarakan pesan penting bahwa transformasi sosial bisa lahir dari hal-hal sederhana. Sebuah sepeda, yang pada awalnya hanyalah alat transportasi personal, dapat menjelma menjadi simbol peradaban berkemajuan bila diletakkan dalam kerangka dakwah, filantropi, dan keberlanjutan. Muhammadiyah telah memberi teladan historis melalui tabligh fiets dan derma fiets. Kini, tugas warga persyarikatan adalah menghidupkan dan mengembangkan kembali semangat tersebut, menyesuaikan dengan tantangan zaman, dan menjadikannya sebagai gerakan kolektif yang menebar manfaat luas. Melalui perspektif ini maka revitalisasi dakwah sepeda bukan berarti kembali ke masa lampau, melainkan sebagai bentuk pelopor berkemajuan sebagai bentuk respon terhadap isu global kontemporer seperti isu lingkungan dan perubahan iklim global. Dengan cara ini, bersepeda tidak hanya menggerakkan tubuh, tetapi juga menggerakkan hati, membangun kesadaran, dan menyalakan semangat perubahan sosial. Wallahua’lam
