Rakornas LDK Muhammadiyah Tegaskan Dakwah Inklusif dari Al-Ma’un hingga Komunitas Mikro

LDKMUH.OR.ID, Semarang – Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa kader dan aktivis Muhammadiyah tidak perlu ragu ataupun gentar dalam berkompetisi menjalankan amanah organisasi. Baginya, kompetisi yang sehat justru merupakan bagian dari dinamika dakwah dan proses pembaruan yang sejak awal melekat dalam gerakan Muhammadiyah.

Penegasan tersebut disampaikan Haedar saat membuka Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PP Muhammadiyah yang digelar di Universitas Muhammadiyah Semarang.

“Tidak perlu takut berkompetisi di Muhammadiyah, karena Ketua Umumnya tidak terlibat,”

ujar Haedar yang langsung disambut tepuk tangan peserta Rakornas. Pernyataan ini sekaligus menegaskan bahwa Muhammadiyah dijalankan dengan prinsip kolektif-kolegial, bukan bertumpu pada figur personal atau kepentingan kelompok tertentu.

Rakornas LDK PP Muhammadiyah ke-2 ini memiliki arti strategis. Selain sebagai ajang konsolidasi dakwah komunitas secara nasional, forum ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh nasional dari beragam latar belakang. Kehadiran mereka menunjukkan bahwa dakwah Muhammadiyah tetap memiliki daya tarik dan relevansi kuat dalam dinamika sosial dan kebangsaan.

Dalam sambutannya, Haedar mengajak peserta untuk menengok kembali akar ideologis dan sejarah Muhammadiyah. Sejak didirikan pada 1912, Muhammadiyah telah diletakkan di atas fondasi yang kokoh sebagai gerakan dakwah dan tajdid. Arah dan karakter Muhammadiyah hari ini, menurutnya, sejatinya merupakan kelanjutan dari gagasan besar para pendiri.

“Semua dasar gerakan Muhammadiyah hari ini, fondasinya sudah diletakkan oleh para pendiri. Kita ini sesungguhnya melanjutkan, meneruskan, dan mengembangkan apa yang telah mereka rintis,”

jelasnya.

Haedar kemudian menyoroti salah satu fondasi utama Muhammadiyah, yakni pemikiran dan praktik Al-Ma’un yang digagas oleh Ahmad Dahlan. Al-Ma’un tidak dimaknai sekadar sebagai bacaan tekstual, melainkan diwujudkan dalam tindakan sosial nyata.

Menurut Haedar, Kiai Dahlan menjadikan Al-Ma’un sebagai teologi welas asih yang bersifat melintasi batas sosial. Dakwah tidak boleh bersifat eksklusif atau membangun sekat-sekat sosial. Al-Ma’un adalah milik semua lapisan masyarakat, baik miskin maupun kaya, karena seluruhnya memiliki tanggung jawab moral dan spiritual yang sama.

“Al-Ma’un itu inklusif. Bukan teologi untuk satu golongan. Orang miskin membutuhkannya, orang kaya pun memerlukannya. Bahkan mereka yang berada di lapisan atas juga ingin masuk surga,” tegas Haedar.

Spirit Al-Ma’un inilah yang membentuk wajah khas Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang membumi. Dari semangat welas asih dan pembaruan tersebut lahir berbagai amal usaha, mulai dari rumah sakit, lembaga pendidikan, panti asuhan, hingga layanan sosial lainnya. Semua itu bukan sekadar institusi, tetapi manifestasi dakwah yang menjawab kebutuhan zaman.

Meski demikian, Haedar mengingatkan bahwa tantangan dakwah Muhammadiyah saat ini semakin kompleks. Fragmentasi sosial makin tajam, problem umat semakin beragam, dan pendekatan dakwah tidak lagi cukup dilakukan secara umum. Karena itu, dakwah komunitas perlu diarahkan lebih fokus dan tajam.

“Dakwah Muhammadiyah ke depan perlu menyasar segmentasi yang lebih kecil, yang mikro, dengan pendekatan yang semakin khusus,” ujarnya.

Segmentasi mikro tersebut mencakup berbagai komunitas spesifik yang selama ini kurang tersentuh oleh dakwah arus utama. Dakwah komunitas, menurut Haedar, harus hadir dengan empati, pemahaman sosial yang mendalam, serta strategi yang kontekstual, bukan sekadar ceramah formal.

Di sisi lain, ia juga mengingatkan agar dakwah Muhammadiyah tidak mengabaikan kalangan masyarakat kelas atas. Selama ini dakwah kerap diasosiasikan dengan kelompok marginal, padahal kelompok elite juga memiliki keresahan spiritual dan kebutuhan akan bimbingan keagamaan.

“Kita jangan lupa menyasar kalangan atas. Mereka juga ingin masuk surga,”

katanya.

Pesan tersebut menjadi penutup reflektif dari pidato Haedar. Dakwah Muhammadiyah, menurutnya, harus mampu bergerak di dua kutub sekaligus: memberdayakan kelompok bawah dan menyapa kelompok atas. Semua dilakukan dalam bingkai dakwah yang inklusif, berkemajuan, dan berlandaskan spirit Al-Ma’un.

Rakornas LDK PP Muhammadiyah diharapkan menjadi momentum penting untuk merumuskan langkah-langkah dakwah komunitas yang lebih fokus, relevan, dan berdampak luas. Dengan berpijak pada fondasi para pendiri serta keberanian menghadapi tantangan zaman, Muhammadiyah diyakini akan terus hadir sebagai gerakan dakwah yang mencerahkan dan memajukan kehidupan umat serta bangsa.

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

Latest Posts