Sarmi, Papua — Dakwah di pelosok negeri terus digerakkan oleh para dai pengabdian yang ditugaskan secara khusus oleh Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Salah satunya adalah Muhammad Ihsan, yang diamanahkan sebagai dai pengabdian LDK PP Muhammadiyah khususnya di wilayah Sarmi, Papua, tepatnya di Kampung Bebon Jaya, Distrik Bonggo, Kabupaten Sarmi. Di wilayah dengan tantangan geografis dan sosial yang tidak ringan tersebut, Muhammad Ihsan berikhtiar menghadirkan pembinaan keislaman yang berkelanjutan dengan menjadikan masjid sebagai pusat seluruh aktivitas dakwah.
Berbagai program dijalankan secara rutin dan terstruktur, mulai dari pengajian ibu-ibu setiap Senin malam ba’da Isya pukul 19.30, program belajar membaca Al-Qur’an bagi ibu-ibu wali santri dan jamaah muslimah umum setiap malam Minggu ba’da Isya, hingga pembinaan TPQ Al-Falah yang dilaksanakan setiap Senin sampai Sabtu ba’da Ashar pukul 16.00–17.50 dengan jumlah santri sekitar 25 anak. Dalam pembelajaran TPQ digunakan metode Ummi dengan penguatan tajwid, hafalan hadis, serta hafalan surah-surah pendek Juz 30 dan Surah Al-Kahfi ayat 1–10. Selain itu, kegiatan Ahad Bersih setiap hari Ahad pagi menjadi sarana pendidikan karakter dengan melatih tanggung jawab anak-anak dalam menjaga kebersihan masjid dan lingkungannya. Pada momen tertentu, Muhammad Ihsan juga melaksanakan safari dakwah menyesuaikan jadwal khutbah maupun undangan ceramah, serta menginisiasi Festival Ramadhan pada pekan terakhir bulan suci dengan rangkaian lomba dan buka puasa bersama.
Materi pengajian ibu-ibu difokuskan pada kiat-kiat meningkatkan kualitas ibadah dan muhasabah diri dalam kehidupan sosial sehari-hari, sementara kelas belajar mengaji bagi jamaah umum lebih menekankan pada penguatan dasar huruf hijaiyah dan ilmu tajwid. Dampak positif pun mulai terlihat anak-anak semakin mudah diarahkan, berani mengumandangkan azan dan iqamah di masjid, serta menunjukkan perubahan sikap menjadi lebih sopan dalam bertutur kata. Antusiasme para santri juga terasa nyata. Haikal, salah satu santri TPQ, mengatakan, “Saya merasa lebih baik karna di ajarkan banyak hal tentang Al-Qur’an dan solat” Jum’at, (20/02/2026). Luna menyampaikan, “Saya senang karna diajar oleh ustad yang baik dan saya lebih semangat untuk belajar lagi” Jum’at, (20/02/2026). Sementara Reza mengungkapkan, “Banyak hiburan dan kreatif ustad yang mengajar sampai saya yang awalnya bosan jadi lebih semangat berangkat mengaji” Jum’at, (20/02/2026).
Dalam perjalanannya, tentu terdapat tantangan. Muhammad Ihsan menyadari bahwa hidup sejatinya selalu ada tantangan, namun semakin hari ia berusaha menghadapinya dengan sabar dan ikhlas dalam berdakwah. Pada awal pengabdian, antusiasme masyarakat belum maksimal karena adanya perbedaan pemahaman dan posisi sebagai bagian dari minoritas organisasi keagamaan di wilayah tersebut. Selain itu, kendala jaringan komunikasi dan listrik yang tidak menentu juga menjadi hambatan teknis dalam pelaksanaan kegiatan.
Sebagai dai pengabdian yang ditugaskan oleh LDK PP Muhammadiyah di wilayah Sarmi, Muhammad Ihsan menyampaikan harapannya, “Harapan saya yang pertama adalah program-program yang sekarang bisa berjalan dengan lancar dan baik, kemudian saya bisa merangkul kembali masyarakat yang kurang dalam pemahaman agamanya agar bisa kembali menanamkan pada masyarakat tentang keislaman dan aqidah seorang muslim yg baik” ujarnya pada Jum’at, (20/02/2026). Muhammad Ihsan juga menambahkan, “Mungkin tindak lanjutnya adalah lebih mendekati masyarakat sosial dan juga menjaga kesehatan yang lebih utama karna Papua tidak lepas dari Virus Malaria” ungkapnya pada Jum’at, (20/02/2026).
Pengabdian ini menjadi bukti bahwa dakwah di tanah Papua bukan sekadar aktivitas seremonial, melainkan proses membangun akhlak, menanamkan kecintaan terhadap Al-Qur’an, serta menghadirkan nilai-nilai Islam dengan kesabaran, keteladanan, dan keberlanjutan di tengah masyarakat. (Latifa)
