LDKMUH.OR.ID, Semarang – Ketua Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muchamad Arifin, memaparkan bahwa dakwah komunitas Muhammadiyah terus mengalami penguatan signifikan sepanjang periode 2024–2025. Dakwah komunitas kini menjadi salah satu instrumen strategis Muhammadiyah karena hadir langsung di ruang-ruang sosial yang selama ini relatif minim pendampingan keagamaan.
Pemaparan tersebut disampaikan Arifin dalam forum Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) II LDK PP Muhammadiyah yang digelar di Semarang. Dalam kesempatan itu, ia menyebutkan bahwa LDK PP Muhammadiyah saat ini mengelola dan membina 26 segmen dakwah komunitas yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia.
“Secara nasional, LDK PP Muhammadiyah didukung oleh 1.594 dai yang aktif membina 933 titik dakwah,” ujarnya.
Dari aktivitas tersebut, total jamaah yang terlayani mencapai 42.097 orang, yang terdiri atas 23.160 jamaah laki-laki dan 18.937 jamaah perempuan.
Menurut Arifin, kekhasan sekaligus kekuatan dakwah komunitas terletak pada keberanian Muhammadiyah menjangkau kelompok-kelompok yang sering kali berada di pinggiran, sekaligus menyasar segmen strategis masyarakat. Dakwah LDK tidak hanya bergerak di ruang publik umum, tetapi juga hadir di kawasan dan komunitas dengan tingkat kerentanan sosial yang tinggi.
Sasaran dakwah tersebut meliputi daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), komunitas mualaf, masyarakat adat terpencil, penyandang disabilitas, warga binaan lembaga pemasyarakatan, eks pecandu narkoba, hingga penguatan peran dai digital Muhammadiyah di ruang maya.
“Dakwah komunitas adalah dakwah yang hadir, bukan menunggu. Ia menjumpai umat di tempat mereka berada, dengan pendekatan yang empatik dan kontekstual,” tegas Arifin.
Ia juga menegaskan bahwa kehadiran dai Muhammadiyah di wilayah 3T merupakan wujud nyata komitmen dakwah yang berkeadilan dan berkemajuan. Hingga saat ini, dai LDK tercatat aktif di lebih dari 180 lokasi dakwah daerah 3T, yang membentang dari Aceh hingga Papua, mencakup wilayah kepulauan, kawasan pegunungan, serta daerah perbatasan negara.
“Ini bukan sekadar angka, tetapi cerminan keberpihakan Muhammadiyah kepada mereka yang paling membutuhkan pendampingan dakwah,” ujarnya.
Lebih lanjut, Arifin menyampaikan bahwa Rakornas II LDK PP Muhammadiyah menjadi momentum penting untuk memperkuat konsolidasi dakwah komunitas agar semakin terarah, terintegrasi, dan berkelanjutan. Melalui penguatan sistem, jaringan dai, serta kolaborasi lintas sektor, ia optimistis dakwah Muhammadiyah akan terus tampil sebagai solusi atas beragam persoalan kemanusiaan dan sosial umat.
“Dakwah komunitas Muhammadiyah harus terus tumbuh sebagai dakwah yang membebaskan, memberdayakan, dan memberi harapan,” pungkasnya.
