Bukan Sekadar Tabligh, Dakwah Inklusif Bangun Peradaban dari Akar Rumput

LDKMUH.OR.ID, SemarangMuhammadiyah menegaskan komitmennya untuk memperkuat Dakwah Inklusif sebagai landasan utama pemberdayaan komunitas. Penguatan ini dimaksudkan untuk mentransformasi dakwah dari pola konvensional menjadi gerakan yang lebih solutif dan kontekstual, sekaligus menghadirkan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.

Gagasan tersebut mengemuka dalam Rapat Koordinasi Nasional Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Muhammadiyah yang digelar di Semarang, Jumat (30/01/26). Dalam forum tersebut, Ketua PP Muhammadiyah, Dr. KH. Saad Ibrahim, menyampaikan pandangan strategis di hadapan ratusan peserta. Ia menekankan bahwa para dai perlu melampaui metode ceramah satu arah yang kaku dan mulai membangun pendekatan yang lebih dialogis.

Dalam pemaparannya, Kiai Saad menjelaskan bahwa kebangkitan umat berangkat dari keyakinan akan kesucian jiwa manusia. Setiap individu, menurutnya, memiliki fitrah dan modalitas teologis yang cenderung pada nilai-nilai kebaikan universal. Oleh karena itu, dakwah tidak seharusnya dilakukan dengan pendekatan yang keras atau menghakimi.

Sebaliknya, ia mendorong para dai untuk mengembangkan dakwah inklusif yang berangkat dari kesediaan mendengarkan dan memahami persoalan masyarakat.

“Inti dari Dakwah Inklusif adalah merangkul tanpa memukul,” tegasnya.

Menurutnya, sikap santun dalam berdakwah akan memudahkan proses aktualisasi potensi kebaikan yang ada dalam diri setiap anggota komunitas.

Lebih lanjut, Kiai Saad menegaskan bahwa dakwah menuntut pemahaman mendalam terhadap realitas sosial yang beragam. Setiap komunitas memiliki karakter, latar belakang, dan cara pandang yang berbeda. Karena itu, dai perlu memahami “bahasa” sosial masyarakat agar pesan keagamaan dapat diterima secara wajar dan tidak menimbulkan jarak.

Dalam konteks tersebut, dakwah kultural berbasis kearifan lokal menjadi sangat penting. Ia menilai seorang dai harus terlebih dahulu memahami cara berpikir masyarakat setempat sebelum menjalankan program pemberdayaan.

“Tanpa memahami mindset warga, pemberdayaan komunitas hanya akan menjadi slogan tanpa ruh,” tambahnya.

Selain itu, Kiai Saad juga menekankan urgensi moderasi beragama dalam dakwah. Sikap moderat diyakini akan menciptakan suasana yang sejuk dan inklusif, sehingga kehadiran dai dapat diterima oleh masyarakat yang majemuk.

Pada akhirnya, keberhasilan Dakwah Inklusif, menurut Kiai Saad, harus tercermin dari manfaat konkret yang dirasakan masyarakat, baik dalam aspek sosial maupun ekonomi. Islam perlu hadir sebagai solusi nyata yang menghadirkan rasa aman, keadilan, dan kebermanfaatan.

Ia mencontohkan berkembangnya sistem perbankan syariah yang kini diakui secara global. Sistem tersebut dinilai berhasil karena mengedepankan prinsip keadilan yang objektif dan inklusif bagi semua kalangan, sehingga menunjukkan relevansi nilai-nilai Islam dalam kehidupan modern.

Menutup paparannya, Kiai Saad menegaskan bahwa membangun peradaban membutuhkan ketekunan, kesabaran, dan kerendahan hati. Melalui Dakwah Inklusif, Muhammadiyah tengah menanam benih kebangkitan di tengah masyarakat, yang diharapkan tumbuh menjadi peradaban yang teduh dan memberi manfaat bagi seluruh umat manusia.

Get in Touch

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

Related Articles

Latest Posts